Membaca Realita Dalam Puisi

Karya sastra biasanya dekat dengan hiburan dan keindahan bahasa, bahkan ada banyak karya sastra yang hanya dimengerti oleh kalangan pecinta sastra, tidak semua kalangan bisa memahami. berbeda dengan karya W.S Rendra yang sederhana namun bisa menyentuh sisi social budaya, kemanusiaan dan politik. Perpaduan antara seni dan realita ternyata dapat membuat penguasa-penguasa negeri ketakutan dengan sebuah puisi.

Willibrordus Surendra Bawana Rendra (Rendra) yang dikenal dengan ‘burung merak’ sejak kecil sudah menunjukkan kemampuannya dalam sastra. Perjalanannya dalam dunia sastra merupakan proses perjalanan  panjang sejak muda. Puisi-puisinya ketika masih muda lebih ke arah cinta antara laki-laki dan perempuan. Setelah menikah, puisi-puisinya lebih bercerita mengenai kehidupan rumah tangga, kritik sosial ekonomi, dan pengkayaan rohani.

Rendra dan Karyanya

Puisi Rendra pertama kali dimuat dalam majalah Siasat pada tahun 1952. Puisi-puisi Rendra juga pernah dimuat di majalah seperti Siasat Baru, Seni, Basis, Kisah Konfrontasi. Selain menulis puisi, Rendra juga berbakat dalam membaca puisi dan bermain drama. Drama pertamanya berjudul ‘Kaki Palsu’ adalah drama pertamanya yang dipentaskan ketika SMP. Dramanya ketika SMA pernah mendapatkan penghargaan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta yang berjudul ‘Orang-Orang di Tikungan Jalan’.

Rendra mendirikan Bengkel Teater pada tahun 1967. Menurut Nasir, budayawan di kota Malang yang mengenal Rendra, Rendra membuat diskusi rutin di Bengkel Teater, sehingga peka terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Bengkel Teater yang sangat terkenal di Indonesia dapat memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun kelompok teaternya sulit bertahan hingga Rendra pindah ke Depok tahun 1985, dan mendirikan Bengkel Teater Rendra dan hingga kini masih bertahan.

Berbagai karya Rendra tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

Membuka Realita dalam Puisi

Pembangunan wacana Rendra sangat kuat ketika muda. Ketika kumpul dengan orang-orang pergerakan disitulah karya Rendra cenderung ke arah puisi kritik sosial, misal mengenai kebijakan hukum, politik, sosial. Rendra menyikapi tekanan sosial, ekonomi, politik,  melalui proses pengkayaan kejiwaan, dan diterjemahkan dalam karyanya. Proses ini jarang kita temukan pada karya-karya para penulis puisi/sastrawan lain yang tidak mempunyai dampak pada manusia lain dalam kehidupan.

Keseimbangan antara kesenian dan realita sosial mempunyai pengaruh terhadap kebudayaan sebuah Negara terjadi ketika membaca karya Rendra. “Kita bisa melihat dimana para politisi di negeri ini menjadi ketakutan hanya dengan sekedar puisi Rendra. Nah kekuatan2 semacam ini sudah tidak lagi kita lihat”, ujar Nasir, budayawan yang mendirikan Kampung Budaya di Malang. Sedangkan karya Rendra memberikan solusi atas ketidakadilan social ekonomi politik dan kekakuan budaya.

Rendra mengkritisi kebijakan politik sosial yang digabungkan dari bagaimana rasa dari diri manusia membaca kasus itu, dia menawarkan solusi. Karya seperti ini tertuang dalam puisinya yang berjudul ‘kesaksian’ dan dinyanyikan oleh Kantata Taqwa. Menurut Nasir, sastrawan saat ini tidak mampu membaca pemikiran politik, tapi sekali terjun justru menjadi ikut politik praktis. “Rendra menguasai sejarah, konstitusi negara, dan perilaku adat, sehingga kearifan yang dibangun pendidikan di negeri ini dg kearifan lokal bisa dibawa pada keseimbangan yang bisa kita baca seperti karyanya ‘Megatruh’. Yang sekali lagi kita tidak menemukan sastrawan yang memahami ruang yang mampu mempelajari ruang dan dimensi yg lain”, tambah Nasir. Harus ada pembedaan antara pemikir politik dan pelaku politik praktis.

Dalam karya Rendra terdapat proses kepedulian membangun kemanusiaan dan kemasyarakatan. Rendra yang mempunyai nama besar juga tidak malu memasuki ruang-ruang kecil seperti berdiskusi dengan Pedagang kaki lima (PKL) di Kampung Budaya, depan stasiun Malang tahun 2003. “ Rendra mengabarkan ketertindasan orang2 yang tidak mampu bicara”, ujar Nasir. Sehingga puisi bukanlah proses hiburan semata. Sastra mampu berbicara tentang realita dan ketidakadilan.

-Ayie-

(Berita ini pernah dimuat di Majalah Canopy edisi 55, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya)