Oleh Hayyu fe

                Dean menghela nafas. Dia berdiri di Beaumont St, tepatnya di depan Ashmolean Museum yang berhadapan dengan Hotel Randolph, Oxford. Dean tersenyum karena yang ia impikan terwujud, yaitu berkuliah di Oxford. Dean sesekali melihat jam tangannya, seolah menantikan sesuatu yang tak kunjung datang.

                “Hey Dean, sorry I’m late,” ucap seorang gadis yang tiba-tiba datang dengan nafas yang terengah-engah.

                “It’s okey Kinanthi, no problem,” ucap Dean.

                Dean dan Kinanthi berkuliah di Institute of Archaeology, Oxford University. Mereka mendapatkan beasiswa dari organisasi perempuan di Inggris untuk Negara berkembang.

                “I love Spring! Ini mengingatkanku akan hangatnya sinar matahari di Indonesia, walaupun musim semi disini tak sepanas di negeri kita,” ucap Dean.

                “Kalau aku paling suka dengan musim dingin,” sahut Kinanthi.

                “Hei, tentang musim dingin, aku jadi terngat dengan Bulan! Apa kau tahu kabarnya?” Tanya Dean.

                “Nah itulah, aku tidak tahu kabarnya. Tetapi aku pernah mendengar bahwa dia berada di Inggris juga,” jawab Kinanthi.

                “Oh ya? Kenapa dia tidak pernah menghubungi kita? Dia bahkan tidak pernah membalas emailku,” keluh Dean.

                “Entahlah. Aku juga lost contact dengan dia!” ucap Kinanti

                “Baiklah, coba nanti kita coba cari info tentang dia. Okay, let’s go to the museum”. Sahut Dean.

                “Aku pun sudah tidak sabar melihat lukisan asli karya Michelangelo, Leonardo da Vinci, dan Pablo Picasso”. Ucap Kinanthi menarik tangan Dean dengan penuh semangat.

                Mereka sangat senang menjelajahi Ashmolean Museum.

***

(Dua tahun yang lalu)

                Senja telah tiba. Dean berdiri di halaman belakang camp bahasa inggris tempat ia menimba ilmu. Ia memandang lautan langit senja. Ada seberkas cahaya yang nampak berkilau indah. Ya, itulah Mars si bintang senja yang bersemangat menghiasi langit. Terang kemerahan bagaikan permata yang muncul ke permukaan.

                 “It’s okay, It will be okay. I’m sure I can do it. One day I will say hi to you in a different place. I’m sure, one day I will meet u again in a new world, new place” lanjutnya sambil menatap sang bintang senja.

                Seorang gadis bernama Bulan mendatanginya.

                “Dean, It’s time for pray. What are you doing here? Have you finished to take your laundry? Ouh God, Come on girls!” ucap Kinanthi.

                “Okey, I am moving now.. Don’t  you see it? I just share to red star about my future, I hope I will reach all of my ambitions” ucap Dean

                “Stop your imagination. We must pray now! Don’t waste your time. Just move now please!”ucap Bulan

                Mereka bergegas masuk.

                Bulan berbisik, “Ayo cepat ambil air wudhu. Karena sebentar lagi miss Anne segera memimpin sholat”

                “Ssst.. be quite! Kalo ketauan kita pakai bahasa indonesia nanti bisa kena punishment” ucap Dean lirih.

                Mereka belajar dan tinggal bersama di sebuah camp yang mengharuskan mereka wajib berbicara bahasa inggris. Semua yang tinggal di camp memiliki tujuan yang sama, yaitu memperoleh beasiswa untuk lanjut belajar di luar negeri.

                “Hii girls, what are you doing? Miss Anne is waiting for you!”, ucap Kinanthi yang tiba-tiba mendatangi mereka. Mereka lalu melakukan ibadah sholat Magrib bersama-sama.

                Dean, Bulan dan Kinanthi berteman baik. Dean ialah gadis ceria yang penuh mimpi. Bulan ialah gadis pintar yang selalu perhatian dengan teman-temannya. Sedangkan Kinanthi ialah gadis supel yang pantang menyerah. Dean sudah 6 bulan belajar disini. Kemampuan grammar dan speaking-nya sangat bagus. Dean memang bisa fokus apabila sedang mempelajari sesuatu. Dengan kemampuannya yang bagus, Dean ditunjuk menjadi salah satu tutor di camp.

                Malam itu mereka berbincang sebelum tidur.

                 “So where will you apply the scholarship?” Tanya Kinanthi membuka pembicaraan.

                “London!” jawab Dean dan Bulan bersamaan.

                “Me too” timpal Kinanthi.

                “I want to visit London Eye, and also want to make a snowman in winter”, ucap Bulan.

                Mereka berangan-angan suatu hari bisa menggapai mimpinya.

                Tiba-tiba ada kejadian tak terduga dua bulan kemudian. Bulan pamit dari camp tanpa memberikan alasan yang jelas. Nomor handphone nya pun tidak bisa dihubungi lagi.

***

                Environmental Archaeology of Sites and Landscapes adalah mata kuliah favourite Dean, tidak heran Dosennya sangat mengapresiasi opini-opini Dean saat perkuliahan berlangsung. Dean sudah bertekad akan bersungguh-sungguh dalam menjalani kuliahnya, dan sebagai wujud rasa syukur pada Allah. Seusai kuliah, Dean mengajak Kinanthi pergi ke suatu café yang biasa ditempuh dalam waktu 5 menit dengan berjalan kaki dari kampus Oxford.

                Mereka tiba di St. Aldates, tepat di depan Café Loco yang merupakan Café dengan bangunan tua yang eksotik. Dean memilih tempat di sisi depan dimana dia bisa melihat keadaan luar dengan jelas. Menu yang terkenal disini adalah Wine dan Kopi. Namun Dean tidak terlalu suka Kopi, apalagi anggur. Berbeda dengan Kinanthi yang suka dengan kopi hingga semua kopi di berbagai tempat sudah ia cicipi.

                “Fresh orange juice,please!”, ucap Dean pada pelayan.

                Kinanthi begitu serius melihat daftar cafe menu di tangannya, “Double Espresso please!”.

                Dean terbengong-bengong bersamaan dengan perginya pelayan cafe.

                “kenapa?” Tanya Kinanthi.

                “Heran.. Kamu benar-benar maniak pahit ya. Minum secangkir espresso aja aku udah nggak tahan pahitnya, apalagi double!”, ucap Dean.

                Kinanthi tertawa. “Eh, Dean.. Jangan salah! Pahitnya Espresso tuh adalah cita rasa kopi yang sebenarnya” ucap Kinanthi.

                “Iiih pahit. Lagi pula harganya mahal, empat setengah poundsterling” ucap Dean

                “Sekali-sekali kan nggak papa. Asal nggak tiap hari. Sebenarnya ada apa kamu mengajakku kesini?”, Tanya kinanthi

                Kinanthi mendekat pada Dean dan berbisik, “A secret?”

                “Haha.. enggak! Aku ingin mengajakmu jalan-jalan”

                “Kapan?”, Kinanthi

                “Besok”, jawab Dean singkat.

                “Kebetulan aku memang mau mengajakmu besok” jawab Kinanthi. Tidak lama kemudian, pelayan cafe datang membawa pesanan mereka.

                 “Mau coba?” Tanya Kinanthi.

                “Makasih, Aku lebih suka juice dari pada coffee” Jawab Dean.

                “Well, I know. Aku hanya menggodamu!” ucap Kinanthi sambil tersenyum.

                “Oya kemarin aku mendapatkan paket misterius, isinya ucapan selamat mendapatkan beasiswa, juga sebuah bunga. Tertanda di kartu ucapanya dari teman lama. Apa itu Bulan?” Tanya Dean

                “Aku juga pernah dapat sewaktu awal-awal kesini. Aku curiga bahwa itu Bulan. Ada beberapa temen bilang kalau adiknya Kak Bintang berkuliah disini. Kak Bintang itu kan kakaknya Bulan”, ucap Kinanthi

                “Iya! Tentang Kak Bintang, aku pernah melihat fotonya di timeline social media. Waktu itu dia sedang apply scholarship” ucap Dean sambil mengingat-ingat.

                “Aku bertemu dengannya saat ada kegiatan PPI beberapa bulan yang lalu! Ketika itu kamu masih di Indonesia. Tetapi dia selalu menghindar ketika aku bertanya tentang Bulan.” Ucap Kinanthi

                “Ini tuh aneh banget deh. Ada apa sebenarmnya?” Dean bertanya-tanya.

                “Makanya aku besok mau ajak kamu ke London Eye. Aku dengar kabar kalau Kak Bintang ada rencana kesana. Aku ingin bertanya padanya sekali lagi”.

                “Semoga kak Bintang mau jujur pada kita”, gumam Dean.

(Keesokan harinya di sekitar London Eye)

                Kinanthi dan Dean akhirnya menemukan Bintang. Laki-laki itu sedang bersama dengan seorang wanita yang memakai hijab.

                “Eh lihat itu Kak Bintang!” ucap Kinanthi.

                “Eh tapi Siapa perempuan yang sama dia? Aku takut kalau malah mngganggu. Jangan-jangan dia lagi kencan!” ucap Dean

                “Kamu tunggu disini ya, aku pastikan dulu!” ucap Kinanthi.

                Perempuan itu tiba-tiba menghindar saat Kinanthi mendatangi Bintang, Dean berlari menghampiri perempuan itu dan tidak sengaja menabraknya.

                “Are you okay? I’m so sorry”, ucap Dean.

                “Its okay”, ucapnya sambil memandang Dean.

                “Kamu!” ucap Dean

                Perempuan itu hendak pergi, namun Dean dengan cepat menggenggam jemari tangannya.

                “Please, don’t go! Please”, Ucap Dean berkaca-kaca.

                Bintang dan Kinanthi segera menghampiri mereka.

                “Bulan? Ini kamu? Masya Allah”, ucap Kinanthi

                Dean dan Kinanthi lalu memeluk Bulan secara bersamaan. Tidak lama kemudian, mereka bertiga pergi ke sebuah taman dan Bintang sengaja pergi untuk menciptakan ruang bagi mereka.

                 “Aku kuliah di Nottingham University” ucap Bulan

                “Jadi kamu sekarang stay di Nottingham?”, Tanya Dean

                “Tolong jelaskan pada kami, kenapa kamu selalu menghindar? Apa yang sebenaya terjadi?”, belum sempat Bulan menjawab, Kinanthi sudah menimpali.

                “Mungkin memang ini saatnya aku jujur. Tentang saat itu, masa laluku yang kelam” ucap Bulan.

                “Kami akan mendengarkan, apapun yang ingin kau katakan, katakanlah”, ucap Dean

                “Jadi swaktu aku keluar camp, sebenarnya ayahku sakit keras, dan beliau memintaku untuk segera menikah dengan lelaki pilihannya. Aku sebenarnya tidak mau tetapi aku tidak tega menolak permintaan ayah yang sedang sakit. Aku bahkan telah mengikhlaskan semua cita-citaku kala itu. Calon Suamiku meminta segera menikah Siri, karena kondisi ayah sudah sangat parah, dan tidak ada waktu untuk mengurus dokumen ke KUA. Setelah itu ayah meninggal. Aku sangat sedih. Tapi aku lega mewujudkan keinginan terakhirnya untuk menikah”, ucap Bulan sambil menghela nafas.

                Dean dan Kinanthi menyimak dengan seksama. Bulan memejamkan mata berusaha tegar namun ingatan tentang ayahnya selalu membuatnya merasa sedih. Kemudian Bulan melanjutkan kata-katanya.

                “Setelah itu Suamiku menunda-nunda untuk melegalkan status penikahan kami. Jadi pernikahan kami belum sah di mata hukum. Di saat aku hamil muda, aku sering mendapatkan perlakuan kasar hingga aku keguguran. Setelah itu dia menjatuhkan talak, dia bilang dia menikah karena dipaksa orang tuanya” ucap Bulan tak terasa air matanya menetes.

                Dean dan Kinanthi ikut menangis dan memeluk Bulan.

                “Keluarga jadi bahan pebincangan orang-orang, dan aku sangat trauma. Sungguh itu bukan suatu penikahan yang kuimpikan”, kata Bulan.

                “Ya Allah.. sekarang kami tahu betapa sulitnya keadaanmu saat itu” ucap Dean

                “Sungguh keterlaluan pria itu, ingin rasanya aku tonjok!” timpal Kinanthi.

                “Sudah selesai ngobrolnya?” ucap Bintang yang tiba-tiba datang membawa minuman untuk mereka bertiga.

                Bintang memandang Kinanthi. “Hei, kamu nggak perlu nonjok, karena dia udah aku tonjok duluan! Sudahlah, yang lalu dijadikan pelajaran saja. Keluarga mereka juga sudah meminta maaf. Sekarang fokus saja pada masa depan. Dan maaf aku tidak bisa mengatakan apa-apa saat kalian menanyakan kabar Bulan. Karena waktunya belum tepat, dan Bulan pun tidak mengizinkan aku bercerita. Oya tentang kiriman misterius itu aku hanya membantu Bulan untuk mengirimkannya pada kalian” lanjut Bintang.

                “Bulan, kalau ada apa-apa, tolong ceita pada kami. Kami selalu ada buat kamu” ucap Dean.

                “Betul yang dibilang Dean. Kini aku senang kita bisa bekumpul dan bersilaturahim lagi” ucap Kinanthi.

                Setelah itu persahabatan Dean, Kinanthi dan Bulan mulai terjalin lagi. Kini Bulan tidak perlu menghawatirkan yang telah lalu. Karena bulan memiliki keluarga dan sahabat yang selalu mendukungnya.

-selesai-