Hai semuaa.. Kali ini saya mau share tentang buku cerita anak karangan saya yang terbit pada tahun 2020. Sebelumnya, singkat cerita, waktu kecil saya suka menulis cerita. Ketika dewasa, walau bacaan kita semakin komplek, saya pun termasuk orang yang masih senang membaca buku cerita anak disamping buku-buku lainnya. Setelah menikah dan punya anak, saya membuat akun instagram @ceritaanak dengan tujuan ingin memposting karangan saya, supaya kebiasaan menulis tidak hilang dalam diri, sebagai kenangan untuk anak-anak saya, dan juga sebagai wadah berbagi cerita pada orang lain.

Banyak pembaca akun IG @ceritaanak menyarankan saya untuk menerbitkan cerita. Tetapi saat itu saya belum siap. Hingga akhirnya cerita ini yang pertama saya terbitkan. Cerita ini pernah diposting di IG @ceritaanak tetapi yang diterbitkan berbeda cerita dan alurnya.

Cover depan buku

Saat memiliki anak pertama, saya senang membacakan buku padanya, juga mendongengkan cerita karangan saya. Lambat laun, saya melihat dia suka sekali dengan cerita-cerita Princess, yang paling dia suka adalah Frozen. Saya berpikir, saya harus bisa bikinin tokoh princess untuk kakak. Lumayan juga bisa menambah bacaan cerita sebelum tidur. Akhirmya, saya mencoba membuat sebuah cerita Princess untuknya. Saya ingin menghadirkan memori spesial untuknya, bahwa ibunya membuat buku untuk anak-anaknya supaya bisa dikenang hingga dia dewasa.

Si kakak lagi baca buku Ummi-nya (sumber: dok. Pribadi)

Anak saya menyambut gembira dengan buku terbitnya buku ini. Dia bahkan pernah bilang jika mempunyai keinginan membuat buku lanjutannya yaitu Putri Eliana 2 ❤

Gambar illustrasi pertama pada cerita.

Buku ini terbit bulan Maret 2020 lalu ditengah keriweuhan sebagai IRT sungguh memberi warna tersendiri.
Cerita yang saya tulis ini berawal dari pemikiran ingin memiliki princess story ala Indonesia. Kalau kita amati anak-anak cenderung menyukai cerita putri dari luar. Selama ini, cerita Princess yang beredar didominasi oleh cerita dari negeri orang. Padahal di Indonesia, negeri kita tercinta ini banyak potensi yang bisa ditampilkan dalam sebuah dongeng. Semisal nilai-nilainya, flora fauna, serta kearifan lokal. Sehingga lingkungan yang ditampilkan pun dekat dengan kehidupan sehari-hari. Oya, pada buku ini, terdapat halaman aktivitas yang menyenangkan pada halaman terakhir.

Blurb dan cover belakang

Cerita Yang Bernuansa Tropis

Pada cerita Putri Eliana ini saya mencoba membuat cerita Princess yang dibungkus dengan latar belakang suasana tropis sehingga bisa lebih dekat dengan lingkungan kita. Misalkan pada saat di hutan maka tanaman dan buah-buahan yang terlihat adalah tanaman tropis seperti manggis dan rambutan. Kemudian saat makan bersama, menu khas yang dihidangkan layaknya lauk pauk di Indonesia ada nasi, tempe, tahu, sup, buah tropis dan lainnya.

Penjualan Perdana

Antusiasme teman-teman juga pembaca cerita anak sangat baik. Saat itu saya mendapat 38 stok buku dari penerbit. Tiga puluh stok sudah habis, sisanya saya gunakan untuk saya simpan dan untuk hadiah teman. Ini di luar ekspektasi, untuk anak bawang seperti saya yang baru saja menerbitkan buku, hehe. Walau buku ini belum meledak seperti buku bestseller, saya sangat senang mendapat banyak feedback positif dari pembaca. Bahkan ada yang order dua kali karena anaknya sangat senang dengan cerita ini. Masya Allah Tabarakallah.

Sekilas Pengalaman Menulis

Sewaktu kecil (TK) saya sangat suka menggambar walaupun saya gambar saya tidak bagus, hehe.. Hingga punya cita-cita sebagai seorang pelukis sekaligus guru. Saat SD saya melihat buku kakak sepupu saya, dia bercerita sedang membuat komik, ceritanya lucu dan bagus. Lalu cerita tentang komik itu saya tulis ulang dalam bentuk paragraf dan saya tunjukkan pada Bapak. Bapak saya sangat mensupport dan menyemangati saya untuk terus menulis.

Saat SMP, saya melihat papan mading di sekolah tidak dimanfaatkan. Jadi saya bertanya pada guru dan ingin mengisi nya. Akhirnya sekolah mempertimbangkan tentang itu, dan saya yang ditunjuk menjadi Ketua Redaksi Majalah Dinding (Mading). Saat itu saya dan anggota redaksi pun melakukan pelatihan jurnalistik, sempat berkunjung juga ke Jawa Pos. Saya senang sekali turut menghidupkan redaksi mading saat itu, hingga akhirnya setelah saya lulus, terbit majalah sekolah untuk pertama kalinya.

Sewaktu SMA, pernah ada pembukaan naskah novel teenlit oleh penerbit. Saya yg duduk di bangku SMA semangat sekali nulisnya. Setiap hari pasti menulis beberapa halaman. Saat hampir menginjak ke halaman 100, Qadarullah terjadi pengalaman pahit yang harus diterima, bahwa hardisk komputer punya Bapak saya hangus (rusak), tidak bisa diperbaiki. Langsung mewek saat itu, mau ngulang ngetik cerita dr awal pun juga tak mudah. Baiklah akhirnya diikhlaskan saja, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Selain itu di sekolah saya juga tertarik dengan ekskul yang melibatkan kepenulisan seperti karya tulis ilmiah. Saat kuliah pun saya kembali bergelut dengan dunia jurnalistik.

Belajar Produktif

Penerbitan buku pertama ini berjalan penuh kesabaran dan perjuangan. Ada masa kala itu illustrator yang menggarap buku ini sakit dalam waktu yang lama. Sehingga setelah 2 tahun cerita ini baru benar-benar bisa terbit. Buku pertama ini tidak mudah prosesnya hingga naik cetak. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Dari sini, kita pun bisa banyak belajar tentang menerbitkan karya untuk kedepannya.


Menjadi produktif bagi seorang ibu yang memiliki label multitasking memang tidak mudah. Meluangkan waktu untuk membaca buku dan melahirkan karya pun bagi seorang ibu pun adalah tantangan tersendiri. Karena sebagai penulis perlu wawasan yang luas dan pertanggungjawaban atas apa yang di tulis. Selagi mampu menuntut ilmu maka kita sebagai hamba Allah wajib dalam menuntut ilmu. Seperti pada hadist, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224). Masya Allah.. semoga kita adalah hamba Allah yang senantiasa termotivasi untuk menjadi produktif, menimba ilmu dan selalu bersikap rendah hati.