Perilaku anak yang nampaknya hanya berlari kian kemari, menyentuh, memegang, mengamati, bahkan merusak benda-benda yang menarik baginya, sebenarnya merupakan gaya belajar mereka yang khas menurut pandangan Dr. Maria Montessori. Ia mengamati bahwasannya sejak masa bayi anak menyerap pengalaman dari lingkungan sekitarnya melalui semua inderanya kemudian diolah melalui otak. Pikiran benar-benar terbentuk melalui proses penyerapan seperti ini.

                Suatu hari saya mendengar celetukan kalau sekolah montessori mahal. Setelah saya mencari info, hal ini dikarenakan dalam penerapannya pada sekolah Montessori harus mentraining guru untuk pemakaian apparatusnya. Sedangkan produksi apparatus Montessori dengan presisi tinggi biasanya diimpor dari luar negeri sehingga harganya pun tidak murah. Sebenarnya kita juga bisa mensiasati dengan benda sehari-hari untuk menerapkannya di rumah, walaupun ada juga apparatus Montessori yang tidak bisa diganti dengan benda lain karena memiliki pressi tinggi.

                Konsep Montessori intinya mengajarkan anak dari kongkrit ke abstrak dengan melibatkan semua indera. Saya pernah berkesempatan berbincang di live Instagram dengan Mbak Adinda Tiara, lulusan Diploma Montessori dari Sunshine Teachers Learning. Kami berbincang lebih dalam mengenai sejarah Montessori, area montessori, material  dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk yang ingin melihat video IG TV bisa langsung kunjungi di instagram @ceritaanak. Pada tulisan ini selain saya merangkum dari rekaman IG TV, saya juga menambahkan tulisan dari berbagai sumber terkait dengan judul.

Mengenal Dr. Maria Montessori

                Maria Montessori lahir di kota Chiaravalle, Italia pada tahun 1870. Dr Maria adalah wanita pertama di Italia yang menyandang Sarjana Kedokteran. Beliau bekerja di bidang psikiater, pendidikan, dan antropologi. Kemudian, pada 6 Januari 1907 di Milan, didirikan sebuah taman kanak-kanak yang pertama di bawah pimpinannya, bernama “Casa dei Bambini”.

                Pada awalnya Dr. Maria Montessori mengembangkan “Metode Montessori” sebagai hasil dari penelitiannya terhadap perkembangan intelektual anak yang berkebutuhan khusus juga pada anak yang tidak mampu. Kemudian berkembang pada anak-anak pada umumnya. Metode ini juga menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar dengan tingkat perkembangan anak dan peran aktivitas fisik dalam menyerap mata pelajaran secara akademis maupun keterampilan praktik secara langsung.

                Berdasarkan pengamatan seksama terhadap perilaku anak-anak didiknya, ia berkesimpulan bahwa di dalam tubuh anak pada dasarnya tersimpan semangat belajar yang luar biasa. Menurut Montessori, perilaku anak yang nampaknya hanya berlari, menyentuh, memegang, mengamati, bahkan merusak benda-benda yang menarik baginya, sebenarnya merupakan cara belajar mereka. Selain itu, menurut Dr. Maria Montessori anak mendapatkan kepuasan dalam proses pencariannya bila ia diberi kebebasan untuk memilih aktivitasnya sendiri. Kebebasan ini bukan berarti tidak terkontrol, tetapi ada batasan yaitu dari segi keamanan dan sopan-santun.

Lima Area Montessori dan penerapannya

                Metode Montessori mengembangkan lima area utama pada diri anak, yaitu Practical Life, Sensorial, Bahasa, Matematika, dan culture. Dari kelima area itu memiliki apparatus sendiri-sendiri. Aparatus Montessori merupakan perangkat permainan yang dirancang agar anak mampu menemukan suatu konsep secara mandiri dengan memainkannya berulang-ulang. Aparatus dibuat menarik didesain secara detail dan presisi sesuai dengan kemampuan anak.

  • Practical Life

      Kegiatan pada area ini adalah praktik dalam kehidupan sehari-hari. Seperti melipat baju, menuang air pada gelas, meronce, dan mengancing. Kegiatan pada practical life ini sangat penting sebelum mereka belajar membaca dan menulis. Pada area ini membutuhkan kekuatan otot jemari tangan anak yang dapat menstimulasi perkembangan menulis juga kemandirian anak.

  • Sensorial

Kegiatan ini untuk menstimulasi dan menghidupkan indera pada anak. Seperti bentuk, warna, tekstur, dan ukuran. Saat live IG mba Adinda menunjukkan beberapa apparatus buatan sendiri yang yang bisa menggantikan apparatus sandpaper letter yaitu dari amplas dan karton. Mbak Adinda membuat huruf pada amplas lalu menempelkannya pada kertas karton yang sudah dipotong kotak kecil. Setelah sandpaper letter bisa dilanjutkan ke Moveable alphabet. Stelah itu lanjut ke phoenic dan mencocokkan. Untuk pengenalan huruf, kita juga bisa menstimulasi indra perabanya dengan mengisi beras bewarna pada nampan lalu anak menulis huruf dengan jarinya.

Mbak Adinda sedang menunjukkan sandpaper letter buatan sendiri dan menunjukkan cara penerapannya
  • Bahasa

Pada metode montessori, anak dikatakan bisa membaca adalah saat anak mampu memahami makna tulisan yang ia baca. Kita bisa mengenalkan benda bisa memakai kartu bergambar dan kata.

Mbak Adinda sedang menunjukkan kartu gambar dan tulisan buatan sendiri dan menunjukkan cara penerapannya (maaf gambarnya terbalik)
  • Matematika

Tidak hanya sekedar mengajari dan membuat bisa anak dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Sehingga, anak menjadi tak paham arti bilangan secara konkret. Pada matematika kita bisa gunakan stik ice cream untuk mengenalkan satuan, puluhan dan ratusan.

Mbak Adinda sedang menunjukkan pemakaian stick ice cream untuk mengenalkan berhitung (satuan puluhan ratusan)
  • Culture

Di area ini anak mendapat wawasan dengan cara yang menyenangkan mengenai budaya dan ilmu pengethuan. Anak akan diajarkan untuk mengenal hal nyata yang konkret terlebih dahulu. Contohnya pengenalan anatomi manusia atau hewan kesukaannya.

Follow The Child

                Follow the child adalah hal yang sering ditekankan mbak Adinda saat menerapkan montessori. Montessori membebaskan anak belajar tetapi sesuai batasan bukan sesuka hati dia. Misalnya kita ingin mengenalkan huruf pada anak, tetapi anak sedang tidak tertarik dan dia ingin menggambar. Maka kita ikuti ketertarikan dia menggambar dan pelan-pelan kita bisa masukkan huruf pada gambar. Setelah moodnya baik maka bisa kita ajak kembali menggunakan apparatus seperti sandpaper letter atau moveable alphabet.

                Pada dasarnya Anak suka memegang, mencium, menyentuh. Konsep ini jika dilakukan dengan baik akan menyenangkan. Intinya kita mengajarkan anak dari hal kongkrit ke abstrak. Proses ini jangan sampai membuat anak terbebani. Kita harus tau saat anak mulai tidak nyaman, maka kita harus follow the child.

Saat saya menemani anak-anak bermain dengan remahan biji jagung. Mengikuti keinginan mereka tetapi sambil diarahkan supaya bisa menstimulasi sensorinya.