By: Hayyu Fe

(Cerpen ini dibukukan pada Buku Antologi Pesawat Kertas. Akan tetapi, yang ada di blog adalah naskah asli, belum melalui proses editing.)

Udara pagi begitu dingin di Lereng gunung Merbabu. Kesegarannya masuk melalui pintu-pintu dan jendela yang baru saja terbuka. Seorang gadis bernama Manika sungguh sangat menikmati udara pagi. Selesai sholat subuh Manika mulai mengambil beras di dapur dan mencucinya.

“Nduk, ngeliwet nasi nya yang agak banyak ya! Kita mau kedatangan tamu” ucap ibu

“Tamu siapa bu?” tanya Manika.

“Tante Nanik? Kamu masih ingat kan?” ucap Ibu

“Iya” ucap Manika sambil menambah takaran beras yang akan dia masak

Saat menunjukkan jam 10 pagi ada suara ketukan dari pintu. Tante Nanik datang bersama anak lelakinya bernama Umair.

 “Manika! Mereka sudah datang!” ucap ibu

Manika berlari dari dapur menuju ruang tamu. Ibu Manika sedang membukakan pintu. Dia tersenyum pada Umair, anak dari sahabat Ibunya, yaitu Tante Nanik. Tapi Umair hanya memandangnya tanpa ekspresi.

“Kau sudah besar Nak” kata Tante Nanik sambil mengelus rambut manika yang terurai sebahu.

Umair pun memandang Manika tanpa senyum. Sesekali dia menunduk ke bawah.

“Umair ayo salim sama Tante Riris, juga Manika!”, ucap Tante Nanik.

Umair mencium tangan Ibu Manika lalu menyalami Manika. Wajah Umair tampak datar dan tidak nyaman. Sepertinya dia mengalami perjalanan yang tidak menyenangkan. Manika terus memperhatikannya. Manika mengamatinya gerak-geriknya seolah-olah ingin tahu seperti apakah sifat Umair.

Umur Manika dan Umair adalah sama. Pertemuan pertama mereka saat berumur satu tahun, tentu mereka lupa. Hanya cerita kedua ibunya yang masih diingat tentang pertemuan pertama itu. Kedua kali bertemu saat berumur lima tahun  di rumah Manika dimana Umair saat itu sangat rewel, hingga pernah memecahkan kendi kesayangan ibu Manika. Ketiga kali mereka bertemu saat berumur sepuluh tahun di sebuah kondangan di Yogyakarta. Kini Umur mereka Lima belas tahun. Mereka bertemu lagi.

“Manika masih ingat dengan Umair kan?” tanya Tante Nanik.

“Masih ingat! Ibu juga kadang bercerita tentang tante Nanik”, ucap Manika sambil tersenyum.

“Selagi ibu ngobrol dengan tante Nanik, Manika bisa antar Umair berkeliling kebun” ucap Ibu Manika.

“Aku bosan disini!” ucap Umair.

“Umair, tidak baik berkata seperti itu. Coba deh kamu refreshing sebentar di kebun dan sawah tante Riris, suasananya beda dengan di kota lho! Kamu pasti suka!” ucap Tante Nanik sambil mengelus pundak Umair.

“Hmm.. Yaudah” jawab Umair.

Manika mengarahkan Umair menuju keluar rumah melalui pintu belakang. Umair mengikuti Manika, walau sebenarnya dia agak kesal.

“Lepas sepatumu, ganti dengan sandal ini” ucap Manika

Umair terdiam.

“Hei, lebih enak kalau pakai sandal. Jangan khawatir kotor, aku tidak memelihara hewan di sepanjang jalan kesana” ucap Manika.

Umair mengganti sepatunya dengan sandal dan mengikuti Manika. Mereka berjalan melewati bedeng-bedeng yang baru saja diairi. Tampak tunas-tunas kecil bertumbuh pada bedeng-bedeng itu. Umair sungguh penasaran tunas apakah itu, tetapi dia tak bertanya. Mereka terus berjalan hingga sampai pada kolam ikan. Disitu terdapat taman kecil yang indah. Taman kecil yang terawat dengan baik menghadap ke gunung. Berbagai tanaman hias ditanam teratur di taman itu.

“Duduklah disini, pemandangannya sungguh indah kan?”, ucap Manika.

Umair melihat sekitar, terlihat gunung merbabu yang begitu jelas dengan awan yang berarak di sekitarnya. Ini begitu menyejukkan mata. Udara disini pun sangat segar. Umair tersenyum sambil menikmati suasana yang asri.

“Akhirnya kau tersenyum” ucap Manika.

“Tidak.. Aku hanya..” Umair mengelak.

“Hanya apa?” Ucap Manika tiba-tiba

Umair sangat canggung. Tapi ia memberanikan diri untuk berkata jujur.

“Bagus pemandangannya”, ucap Umair agak terbata-bata.

Seorang anak kecil tiba-tiba mendatangi Manika.

“Mbak, bikinkan pesawat kertas”, ucapnya sambil menyodorkan buku tulis miliknya.

“Siapa dia?” tanya Umair

“Dia adalah anak dari Paklek dan Bulek yang bantu ibu mengurus lahan dan taman ini” jawab Manika.

Umair menganggukkan kepala mendengar jawaban Manika, lalu tangannya menengadah ke arah anak kecil itu. “Sini, aku buatkan pesawat kertas! Aku jago banget loh bikinnya” ucap Umair.

Dengan lihai Umair membuat dua pesawat kertas untuk anak kecil itu. Anak itu menerbangkannya dengan baik. Setelah itu dia pergi ke gubuk kecil dimana ayah dan ibunya beristirahat. Umair memperhatikan keluarga di gubuk itu sangat bahagia.

Suasana menjadi hening sejenak. Manika sungguh penasaran kenapa Umair begitu tidak enak hati saat datang tadi. Apa yang mengganggu pikirannya.

“Apa perjalanan kamu dari Jakarta cukup menyenangkan?” tanya Manika.

“Tidak juga” jawab umair singkat.

“Oya aku juga punya rumah di Jakarta, peninggalan ayahku” ucap Manika sambil memandang keindahan gunung di depan matanya.

Umair menengok ke arahnya, dan berkata, “Ibuku pernah bercerita tentang keluargamu. Aku turut berduka atas meninggalnya ayah kamu setahun yang lalu” ucap Umair.

“Ayah adalah permata hatiku, aku akan selalu mendoakannya” jawab Manika

“Ayahmu sungguh sayang padamu. Tidak seperti ayahku, dia menghilang bertahun-tahun. Kemarin dia berjanji bertemu denganku. Tapi ayah melanggar janjinya” ucap Umair.

Manika terperanjat. Dia membayangkan bagaimana berada pada posisi Umair. Namun ada satu hal yang terbesit di pikirannya.

“Tetapi, ayahmu masih ada di dunia. Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Bisa jadi cerita mendungmu menjadi pelangi. Mungkin saja Allah mengabulkan doa-doamu tentang Ayah. Kita tidak pernah tahu” ucap Manika sambil menatap Umair.

Pembicaraan mereka lalu terhenti, ada seekor kucing liar yang tiba-tiba mendekati Manika. Manika mengelus-elus kepalanya. Kucing liar itu terlihat sangat terawat, badannya besar dan warna telonnya cantik.

“Muning.. Kemuning! Ahh kamu lapar ya setelah keliling desa”. ucap Manika sambil merogoh sakunya dalam-dalam.

“Untung aku bawa makanananmu di saku” ucap Manika.

Umair memperhatikan Manika. Dia masih teringat dengan kata-kata Manika “Kita tidak pernah tahu tentang masa depan”. Umair berpikir dalam hati, bahwa mungkin dia kurang berikhtiar pada Allah.

Umair berpikir Manika ini berbeda dengan teman-teman perempuannya di Jakarta. Dalam pikiran Umair, Manika itu orangnya supel, selalu berpikir positif, dia juga sangat dekat dengan alam.

Setelah itu, Manika mengajak Umair untuk segera kembali ke rumah, karena sebentar lagi masuk waktu Dhuhur. Sudah dekat dengan halaman belakang rumah, namun tiba-tiba Manika berbelok ke kanan. Aroma khas tanaman tomat tercium pekat. Sedangkan Umair enggan masuk di sela-sela tanaman tomat yang mulai berbuah lebat. Dia menutup hidungnya, tidak tahan dengan bau tanaman tomat yang menyeruak.

“Tunggu ya! Aku mau ambil beberapa tomat yang matang. Karena persediaan di rumah sudah habis.” ucap Manika.

Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah. Manika memberikan tomat yang sudah dipanen pada ibu. Ibu dan tante Nanik rupanya sudah menyiapkan makan siang di meja makan.

“Manika dan Umair, kalian sholat dhuhur dulu ya! Setelah itu kalian makan siang” ucap Ibu.

Setelah makan siang, tante Nanik pamit pulang.

“Secepat itu?” tanya Manika.

“Iya jadwal kereta kami nanti malam. Setelah dari sini kami mau ke rumah salah satu saudara, baru malamnya naik kereta” ucap tante Nanik

Ibu membawakan oleh-oleh hasil panen dari kebun pada tante Nanik. Sedangkan manika keluar dari kamar dan memberikan sebuah buku pada Umair.

“Ini, buat kamu!”

Umair membaca bagian sampul depan buku yang diberikan Manika. Umair tersenyum kecil. Dia membaca sampul buku itu dalam hati “Treasure your Memories by Manika”. Umair dibuat kagum dengan Manika.

“wah! Ini karyamu?” tanya Umair dengan semangat.

“Iya! Baca ya” ucap Manika.

“Pasti! Keren sekali kamu!” ucap Umair.

Tante Ninuk dan Ibu Manika saling berpandangan lalu tersenyum. Tante Nanik pun begitu heran kenapa Umair dan Manika bisa akrab secepat ini, padahal biasanya Umair sangat tertutup juga keras kepala.

Saat malam di kereta, hati Umair mulai tertata lagi. Dia mengingat lebih baik segala kenangan indah bersama ayahnya. Umair yakin ayahnya sangat mencintainya. Umair mulai mengeluarkan buku Manika dari tasnya. Sedangkan ibunya sudah lebih dahulu terlelap di kursi sampingnya. Dia membaca kata demi kata apa yang ditulis di buku begitu mengena. Dia jadi teringat dengan kata-kata Manika bahwa kita tidak tahu bagaimana masa depan. Kereta terus melaju, rasa kantuk mulai menyergap. Umair terlelap dengan buku yang masih dipegangnya.

***



Oleh: Hayyu Fe

Udara pagi begitu dingin di Lereng gunung Merbabu. Kesegarannya masuk melalui pintu-pintu dan jendela yang baru saja terbuka. Seorang gadis bernama Manika sungguh sangat menikmati udara pagi. Selesai sholat subuh Manika mulai mengambil beras di dapur dan mencucinya.

“Nduk, ngeliwet nasi nya yang agak banyak ya! Kita mau kedatangan tamu” ucap ibu

“Tamu siapa bu?” tanya Manika.

“Tante Nanik? Kamu masih ingat kan?” ucap Ibu

“Iya” ucap Manika sambil menambah takaran beras yang akan dia masak

Saat menunjukkan jam 10 pagi ada suara ketukan dari pintu. Tante Nanik datang bersama anak lelakinya bernama Umair.

 “Manika! Mereka sudah datang!” ucap ibu

Manika berlari dari dapur menuju ruang tamu. Ibu Manika sedang membukakan pintu. Dia tersenyum pada Umair, anak dari sahabat Ibunya, yaitu Tante Nanik. Tapi Umair hanya memandangnya tanpa ekspresi.

“Kau sudah besar Nak” kata Tante Nanik sambil mengelus rambut manika yang terurai sebahu.

Umair pun memandang Manika tanpa senyum. Sesekali dia menunduk ke bawah.

“Umair ayo salim sama Tante Riris, juga Manika!”, ucap Tante Nanik.

Umair mencium tangan Ibu Manika lalu menyalami Manika. Wajah Umair tampak datar dan tidak nyaman. Sepertinya dia mengalami perjalanan yang tidak menyenangkan. Manika terus memperhatikannya. Manika mengamatinya gerak-geriknya seolah-olah ingin tahu seperti apakah sifat Umair.

Umur Manika dan Umair adalah sama. Pertemuan pertama mereka saat berumur satu tahun, tentu mereka lupa. Hanya cerita kedua ibunya yang masih diingat tentang pertemuan pertama itu. Kedua kali bertemu saat berumur lima tahun  di rumah Manika dimana Umair saat itu sangat rewel, hingga pernah memecahkan kendi kesayangan ibu Manika. Ketiga kali mereka bertemu saat berumur sepuluh tahun di sebuah kondangan di Yogyakarta. Kini Umur mereka Lima belas tahun. Mereka bertemu lagi.

“Manika masih ingat dengan Umair kan?” tanya Tante Nanik.

“Masih ingat! Ibu juga kadang bercerita tentang tante Nanik”, ucap Manika sambil tersenyum.

“Selagi ibu ngobrol dengan tante Nanik, Manika bisa antar Umair berkeliling kebun” ucap Ibu Manika.

“Aku bosan disini!” ucap Umair.

“Umair, tidak baik berkata seperti itu. Coba deh kamu refreshing sebentar di kebun dan sawah tante Riris, suasananya beda dengan di kota lho! Kamu pasti suka!” ucap Tante Nanik sambil mengelus pundak Umair.

“Hmm.. Yaudah” jawab Umair.

Manika mengarahkan Umair menuju keluar rumah melalui pintu belakang. Umair mengikuti Manika, walau sebenarnya dia agak kesal.

“Lepas sepatumu, ganti dengan sandal ini” ucap Manika

Umair terdiam.

“Hei, lebih enak kalau pakai sandal. Jangan khawatir kotor, aku tidak memelihara hewan di sepanjang jalan kesana” ucap Manika.

Umair mengganti sepatunya dengan sandal dan mengikuti Manika. Mereka berjalan melewati bedeng-bedeng yang baru saja diairi. Tampak tunas-tunas kecil bertumbuh pada bedeng-bedeng itu. Umair sungguh penasaran tunas apakah itu, tetapi dia tak bertanya. Mereka terus berjalan hingga sampai pada kolam ikan. Disitu terdapat taman kecil yang indah. Taman kecil yang terawat dengan baik menghadap ke gunung. Berbagai tanaman hias ditanam teratur di taman itu.

“Duduklah disini, pemandangannya sungguh indah kan?”, ucap Manika.

Umair melihat sekitar, terlihat gunung merbabu yang begitu jelas dengan awan yang berarak di sekitarnya. Ini begitu menyejukkan mata. Udara disini pun sangat segar. Umair tersenyum sambil menikmati suasana yang asri.

“Akhirnya kau tersenyum” ucap Manika.

“Tidak.. Aku hanya..” Umair mengelak.

“Hanya apa?” Ucap Manika tiba-tiba

Umair sangat canggung. Tapi ia memberanikan diri untuk berkata jujur.

“Bagus pemandangannya”, ucap Umair agak terbata-bata.

Seorang anak kecil tiba-tiba mendatangi Manika.

“Mbak, bikinkan pesawat kertas”, ucapnya sambil menyodorkan buku tulis miliknya.

“Siapa dia?” tanya Umair

“Dia adalah anak dari Paklek dan Bulek yang bantu ibu mengurus lahan dan taman ini” jawab Manika.

Umair menganggukkan kepala mendengar jawaban Manika, lalu tangannya menengadah ke arah anak kecil itu. “Sini, aku buatkan pesawat kertas! Aku jago banget loh bikinnya” ucap Umair.

Dengan lihai Umair membuat dua pesawat kertas untuk anak kecil itu. Anak itu menerbangkannya dengan baik. Setelah itu dia pergi ke gubuk kecil dimana ayah dan ibunya beristirahat. Umair memperhatikan keluarga di gubuk itu sangat bahagia.

Suasana menjadi hening sejenak. Manika sungguh penasaran kenapa Umair begitu tidak enak hati saat datang tadi. Apa yang mengganggu pikirannya.

“Apa perjalanan kamu dari Jakarta cukup menyenangkan?” tanya Manika.

“Tidak juga” jawab umair singkat.

“Oya aku juga punya rumah di Jakarta, peninggalan ayahku” ucap Manika sambil memandang keindahan gunung di depan matanya.

Umair menengok ke arahnya, dan berkata, “Ibuku pernah bercerita tentang keluargamu. Aku turut berduka atas meninggalnya ayah kamu setahun yang lalu” ucap Umair.

“Ayah adalah permata hatiku, aku akan selalu mendoakannya” jawab Manika

“Ayahmu sungguh sayang padamu. Tidak seperti ayahku, dia menghilang bertahun-tahun. Kemarin dia berjanji bertemu denganku. Tapi ayah melanggar janjinya” ucap Umair.

Manika terperanjat. Dia membayangkan bagaimana berada pada posisi Umair. Namun ada satu hal yang terbesit di pikirannya.

“Tetapi, ayahmu masih ada di dunia. Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Bisa jadi cerita mendungmu menjadi pelangi. Mungkin saja Allah mengabulkan doa-doamu tentang Ayah. Kita tidak pernah tahu” ucap Manika sambil menatap Umair.

Pembicaraan mereka lalu terhenti, ada seekor kucing liar yang tiba-tiba mendekati Manika. Manika mengelus-elus kepalanya. Kucing liar itu terlihat sangat terawat, badannya besar dan warna telonnya cantik.

“Muning.. Kemuning! Ahh kamu lapar ya setelah keliling desa”. ucap Manika sambil merogoh sakunya dalam-dalam.

“Untung aku bawa makanananmu di saku” ucap Manika.

Umair memperhatikan Manika. Dia masih teringat dengan kata-kata Manika “Kita tidak pernah tahu tentang masa depan”. Umair berpikir dalam hati, bahwa mungkin dia kurang berikhtiar pada Allah.

Umair berpikir Manika ini berbeda dengan teman-teman perempuannya di Jakarta. Dalam pikiran Umair, Manika itu orangnya supel, selalu berpikir positif, dia juga sangat dekat dengan alam.

Setelah itu, Manika mengajak Umair untuk segera kembali ke rumah, karena sebentar lagi masuk waktu Dhuhur. Sudah dekat dengan halaman belakang rumah, namun tiba-tiba Manika berbelok ke kanan. Aroma khas tanaman tomat tercium pekat. Sedangkan Umair enggan masuk di sela-sela tanaman tomat yang mulai berbuah lebat. Dia menutup hidungnya, tidak tahan dengan bau tanaman tomat yang menyeruak.

“Tunggu ya! Aku mau ambil beberapa tomat yang matang. Karena persediaan di rumah sudah habis.” ucap Manika.

Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah. Manika memberikan tomat yang sudah dipanen pada ibu. Ibu dan tante Nanik rupanya sudah menyiapkan makan siang di meja makan.

“Manika dan Umair, kalian sholat dhuhur dulu ya! Setelah itu kalian makan siang” ucap Ibu.

Setelah makan siang, tante Nanik pamit pulang.

“Secepat itu?” tanya Manika.

“Iya jadwal kereta kami nanti malam. Setelah dari sini kami mau ke rumah salah satu saudara, baru malamnya naik kereta” ucap tante Nanik

Ibu membawakan oleh-oleh hasil panen dari kebun pada tante Nanik. Sedangkan manika keluar dari kamar dan memberikan sebuah buku pada Umair.

“Ini, buat kamu!”

Umair membaca bagian sampul depan buku yang diberikan Manika. Umair tersenyum kecil. Dia membaca sampul buku itu dalam hati “Treasure your Memories by Manika”. Umair dibuat kagum dengan Manika.

“wah! Ini karyamu?” tanya Umair dengan semangat.

“Iya! Baca ya” ucap Manika.

“Pasti! Keren sekali kamu!” ucap Umair.

Tante Ninuk dan Ibu Manika saling berpandangan lalu tersenyum. Tante Nanik pun begitu heran kenapa Umair dan Manika bisa akrab secepat ini, padahal biasanya Umair sangat tertutup juga keras kepala.

Saat malam di kereta, hati Umair mulai tertata lagi. Dia mengingat lebih baik segala kenangan indah bersama ayahnya. Umair yakin ayahnya sangat mencintainya. Umair mulai mengeluarkan buku Manika dari tasnya. Sedangkan ibunya sudah lebih dahulu terlelap di kursi sampingnya. Dia membaca kata demi kata apa yang ditulis di buku begitu mengena. Dia jadi teringat dengan kata-kata Manika bahwa kita tidak tahu bagaimana masa depan. Kereta terus melaju, rasa kantuk mulai menyergap. Umair terlelap dengan buku yang masih dipegangnya.

***