Dedicated to CANOPIERS

Malam ini udara begitu dingin, kami duduk di sebuah tempat yang didesign untuk bercengkramanya anak muda. Duduk membentuk segi empat, menunggu pesanan yang tak kunjung tiba. Musik-musik riang mewarnai tempat ini. Di sekitar kami terdapat gubug-gubug yang sengaja didesign untuk ciri khas café ini. Anak-anak muda berkumpul di sudut gubug itu, mereka asyik berdiskusi. Sedangkan di belakang kami, sekumpulan anak muda sedang bercanda dengan riang, melepaskan kepenatan di malam cerah ini. Kami sengaja memilih tempat di luar, tidak di gubug. Ketika kutatap ke atas, aku bisa menatap langsung ke arah langit. Aku melihat satu bintang yang paling terang diantara bintang-bintang lainnya. Mungkin bintang-bintang lainnya silau dengan cahaya lampu eksotis di cafe ini, sehingga bintang yang bisa kulihat hanya bintang yang paling terang.

”Pesanannya kok lama banget yah!”, ucap Dina mengawali pembicaraan.

”Mungkin tempat ini didesign sedemikian rupa supaya kita memanfaatkan waktu untuk ngobrol dulu”, sahut Zothi yang memakai sarung coklat untuk menghangatkan diri.

”Ya, tempat ini sepertinya memang didesign untuk ngopinya anak muda. Asyik untuk ngobrol!”, ucap Endrew menambahkan.

Seno dan Uli memperhatikan kata-kata Endrew. Sedangkan aku benar-benar merasa dingin mulai merasuk ke tulangku. Kugosokkan kedua telapak tanganku sembari kutiup. ”Kali ini apa topiknya?”, tanyaku.

”Kira-kira topiknya apa ya?” gumam Zothi. ”Din, biasanya kamu punya topik yang menarik”.

”Ah ngawur, aku malah nggak pernah ngusulin topik”, jawab Dina.

”Masa sih, ya sekarang giliranmu yang buat topik”, timpal Zothi.

Dina tersenyum dengan santai bersamaan dengan itu pesanan kami datang. Pelayan menurunkan cangkir demi cangkir yang ada di nampannya.

”Ini susu jahemu din, trus ini capucinno-nya sapa?”, tanya Uli.

”Itu punyaku”, jawabku seketika.

Semua sudah mendapatkan pesanan masing-masing. Zothi memesan kopi malang, Endrew memesan kopi jahe, sedangkan Uli dan Seno memesan kopi biasa.

”Aku nggak ngerti sebenarnya apa yang patut kita pertahankan?”, ucap Endrew setelah menyeruput kopi jahenya untuk pertama kali.

”Maksudnya? Secara general”, tanyaku belum jelas.

”Ya iya, secara general”, tegas Endrew.

”Ya idealisme kita!”, sahut Uli. ”Kita harus idealis”.

”Emangnya idealis itu menurut kamu apa sih?”, tanya Endrew lagi.

”Aku sendiri belum paham apa itu idealis”, komen Uli

”Lho, tadi kan kamu bilang kalo harus idealis. Seharusnya kamu paham apa itu idealis sebelum mengeluarkan statement”, ucap Zothi.

Aku menikmati cappucinoku tetapi tidak lepas perhatian dari perkataan teman-temanku.

”Kalo menurutku idealis itu ya cara untuk mencapai tujuan. Misalkan aja Ana pengen jadi pintar, maka dia punya cara sendiri bagaimana bisa pintar”, ucap Dina.

“Itu namanya Ego!”, sahut Zothi.

“Apakah pintar itu adalah sebuah hal yang ideal?”, tanya Endrew.

”Yang namanya ideal itu ya pas alias sesuai atau bisa dibilang sempurna”, ucapku.

Tiba-tiba Dina sedikit gusar. “Eh, tau nggak dimana kamar kecil?”, tanyanya memecah pembicaraan. Akhirnya Endrew mengantar Dina ke kamar kecil.

Diskusi terus berlanjut. Sendok demi sendok Cappucino ku minum. Tinggal aku, Zothie, Uli dan Seno.

”Kalo menurut kamu idealis itu apa?”, tanya Zothi.

”Idealis itu mencakup keyakinan. Juga Perfeksionis di dalamnya”, ucap Uli.

Seno hanya mendengarkan pembicaraan.

”Jadi menurutmu perfeksionis itu include dalam idealis”, tegas Zothi.

“Kalo menurutku Idealis dan perfeksionis itu berbeda. Idealis itu dimana kita punya prinsip dan di situasi semacam apa kita menggunakan prinsip itu dengan keyakinan kita. Kalo Perfeksionis tuh dimana kita berusaha berpenampilan sempurna, menjadi sesuatu yang perfect”, ucapku.

“Mungkin aku lebih cenderung ke statementnya Ana, kalau Idealis dan perfeksionis itu beda”, ucap Zothi.

“Ya itu memang beda”, tanggap Uli.

”Lho, katamu perfeksionis masuk ke dalam idealis”, ucap Zothi

“Maksudku, idealis itu pasti perfeksionis sedangkan perfeksionis itu belum tentu idealis”, jelas Uli.

Dina dan Endrew datang.

”Gimana nih, apa benar yang masih pantas kita pertahankan adalah idealisme? Atau mungkin kita memang tidak tahu apa itu idealisme?”, ucap Endrew sambil menyalakan rokok.

”Ya itu tadi, kalo menurutku idealis itu adalah prinsip yang kita pegang di suatu kondisi”, ucapku.

”Soalnya ada yang berpendapat kalo saat ini yang pantas untuk dipertahankan adalah idealisme. Masalahnya Idealisme seperti apa?”, ucap Endrew sambil menyebulkan asap rokok yang dia hisap.

”Idealisme itu punya individu atau tidak sih?”, tanya Zothi.

”Ya menurutku idealisme itu dimulai dari individu, ketika masuk ke dalam komunitas dan memiliki pemahaman yang sama maka idealisme komunitas itu bisa punya idealisme yang sama”, ucapku.

”Ada benarnya juga, tapi tidak serta merta seperti itu”, komen Zothi.

Malam semakin dingin. Zothi mengurung tubuhnya dengan sarung coklat dan menghisap rokok. Dina tampaknya sedikit bosan.

”Wah kalo gini foto-foto kan asyik ya”, celetuk Zothi mencoba mencairkan suasana. “An, pinjam hapemu dong!”

Zothi dengan gaya fotografernya mencoba beberapa angle yang pas. Sesekali mendekatkan kamera hapeku ke arahku lalu menjauhkannya lagi. ”Aku pengen ambil gambar siluetmu tapi sayang lampu di belakangmu nggak cukup kuat cahayanya”, ucap Zothi padaku. Lampu yang bersinar di belakang kami memang sebatas lampu hias yang bisa dibilang cukup terang untuk ukuran lampu hias, tapi tetap saja menurut Zothi masih tidak cukup.

Seno, Uli dan Endrew menikmati kopinya masing-masing. Sedangkan Zothi memotretku, kemudian giliran Dina yang dipotret. Hasilnya lumayan, karena saat memotret, Zothi menggunakan lampu kamera dan background fotonya adalah lampu hias kecil-kecil yang melingkar di pohon, lampu yang biasanya dibuat hiasan tujuh belasan itu lho.

”Jadi, sampai mana tadi pembicaraan kita?”, tanyaku.

“Oh iya, orang yang menginginkan untuk pintar tapi orang itu sebenarnya nggak ngerti pintar itu apa. Itu bukanlah orang yang idealis, karna dia tidak mengerti apa sebenarnya tentang yang dia inginkan”, ucap Endrew.

“Bias? Kadang terjadi bias disana”, komen Zothi.

Aku meminum cappucinoku yang mulai dingin hingga habis. Dina menawari susu jahenya padaku.

”Wah susu jahenya enak!”, komenku pada Dina.

Suasana menjadi hening. Kemudian Dina mencoba memecah suasana. ”Bagaimana? Apa sudah nggak ada yang mau dibicarakan lagi?”, tanyanya. ”Kalo nggak ada yang mau dibicarakan, ayo kembali ke CaNoPy”.

”Jadi ngajak balik nih”, ucapku.

Dina tersenyum. Kemudian Zothi beranjak dari posisi duduknya.

”Ayo, kita balik aja, udah malam”, ucap Zothi.

Waktu sudah hampir tengah malam. Beberapa orang masih bertahan ngobrol-ngobrol di gubug. Sepeda-sepeda yang parkir sudah mulai berkurang. Aku berboncengan dengan Dina.

“An, kamu nginep nggak?”, Tanya Dina padaku.

”Kayaknya iya, kamu gimana?”, tanyaku

”Aku nggak nginep, ya dah tar ati-ati”, ucap Dina.

”Oke”, ucapku.

Kami menerjang dinginnya malam. Bulan Agustus yang dingin, semoga hatiku tidak menjadi dingin.

Yie’

August, 5th 2008

Malam menemani kita kawan!