by: Hayyu Fe

hujan-malam-ini

1

Ini sudah siang, namun sang surya tak terlihat keberadaannya. Oh, rupanya matahari masih ingin diselimuti mendung. Semakin tidur dan terlelap. Gelap kini. Suara bergemuruh bersahutan memecah langit. Kilatannya terpancar di sela-sela kumpulan awan hitam. Tidak begitu lama, tetesan air berjatuhan, seperti tak sabar bersua dengan bumi. Semakin deras, dan semakin berisik. Langitpun begitu gelisah dengan genderang-genderang yang sesekali menyentak. Tapi gadis itu biasa saja. Tidak terpancing dengan kegelisahan langit, dan bagian bawah roknya yang panjang sudah mulai basah. Dia terdiam dan memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke tiang halte bus. Lama. Tidak ada bus yang melintas.

***

2

Gadis kecil itu sangat menikmati gerimis. Tangannya yang mungil ditadahkannya keatas demi buaian tetesan air hujan. Semakin deras, semakin dia antusias. Lalu meluberlah air dalam tampungan tangannya. Dia lempar dengan sekuat tenaga, menyatu dengan derasnya hujan, sambil berteriak riang, “Hujaaaan ayo menari bersamaku”. Berputarlah dia dengan irama yang seimbang, sesekali kepalanya diangkat ke atas, menikmati rintiknya yg bersentuhan dengan kulit, lalu diusap dengan tangannya yang kecil. Keceriaannya tak berhenti sampai disana. Rindunya pada hujan tak tertahankan. Sudah lama ia menanti hujan ini. Dan ini kali pertama hujan berkunjung lagi padanya. Berteman dengan hujan adalah hal yang sangat menakjubkan baginya. Bagi dia, si gadis kecil.

Dia begitu kuat, tidak ada demam atau meriang. Wajahnya justru berseri-seri. Didekapnya ibunya yang sedang memasak di dapur. “Bu! Besok Dinda hujan-hujanan lagi ya!”, ucapnya sangat antusias.

Ibunya memandang gadis kecil itu, “Boleh, tapi jangan lama-lama ya kalau hujan-hujan, nanti kalau sakit malah ga bisa main sama hujan!”, jawab ibunya.

Dinda tersenyum, “Iya buu”.

Dinda berlari ke kamarnya, lalu menyusun balok-balok mainannya menjadi sebuah istana. Ditaburkannya benang-benang yang telah ia potong kecil-kecil, berhamburan di istana buatannya. Benang itu adalah hujan. Hujan dalam imajinasinya. Hujan yang selalu dia sertakan dalam setiap kisahnya.

Hujan, janganlah pergi…

Hujan, jadilah teman baikku..

Itulah yang dia pikirkan, untuk seorang gadis kecil, gadis mungil dengan berjuta tawa. Pilihan itu jatuh pada hujan. Hujan yang selalu dinantikan. Hingga beranjak dewasa, hujan tetap menjadi pesonanya, inspirasinya.

***

3

Dinda tersenyum, memandang beribu gambar gerimis buatannya di dalam kamar. Hari ini dia berjanji dengan kawan-kawannya. Dimasukkannya kamera, dan buku catatan kecil, dan bermacam roti serta makanan kecil ke dalam ranselnya. Riang sudah menunggu di depan.

“Hey, Riang! Ini masih terlalu pagi”

“Ah dasar Dinda! Justru semakin awal berangkat semakin bagus!”

“Iya deh, yuuk berangkat, eitsss yang lain mana?”

“Sudah nunggu di depan kampus!”

Mereka memulai perjalanan mereka ke sebuah pulau, Sempu namanya. Perjalanannya cukup lama dari kota Malang.

Seperempat dari perjalanan, mereka terhenti. Sedangkan kawan-kawan yang lain sudah melaju terlebih dahulu.

“Kenapa, Riang?”,Tanya Dinda.

“Wah, kumat lagi ini! Si motor tua memang rada sakit-sakitan. Padahal udah servis”.

Dinda menatap langit, mendung mulai berarak, mendekat.

“Coba SMS yang lain! Sambil aku dorong sepeda, cari bengkel yang dekat”.

Dinda mengangguk.

Gerimis memulai nadinya. Namun hanya rintik kecil yang menggelitik. Bengkel pun belum ditemukan. Daerah ini bukanlah daerah ramai. Yang lewat kebanyakan truk, baik truk kecil maupun besar. Perjalanan mereka pun terhenti sebentar.

“Gimana? Yang lain sudah balas sms?”

“Belum. Rinda, Fahri, Ananta, dan Kirana, semuanya nggak balas”

“Khrisna?”

“Ga tau nomornya Khrisna”, ucap Dinda.

“Yasudah, mungkin mereka nggak dengar karena masih di jalan, kecuali mereka berhenti sebentar, semoga baca SMS kamu”

“Iya”. Lalu, Dinda melihat rumah kecil di kejauhan. “Eh Riang, lihat deh, di depan rumah itu ada ban menggantung. Mungkin saja itu bengkel.

“Oke kita kesana”.

Setibanya disana, mereka bisa lega karena benar rumah itu adalah sebuah bengkel kecil. Di sebelahnya, terdapat warung kopi dan disanalah Dinda dan Riang berteduh sambil memesan kopi. Hujan bertambah deras, semakin deras.

“Kenapa tiba-tiba hujan ya! Cuaca sekarang nggak bisa diprediksi!”

“Mungkin Hujan rindu pada kita”, Dinda menimpali.

Riang menatap Dinda sebentar, lalu berpaling pada kopi yang tengah disuguhkan penjual.

“Apa yang harus dirindukan hujan padamu?”, tanya Riang.

Dinda tersentak. “Setiap apa yang kita berikan padanya”, ucapnya kemudian.

Riang tertawa, “Apa yang sudah kamu berikan?”.

Dinda menerawang. “Mau tau aja!”, jawab Dinda

Riang tersenyum geli. “Oke..oke.. semoga hujan benar-benar rindu padamu ya!”.

Riang mengeluarkan beberapa kertas dari ranselnya, “Ini, data yang kau butuhkan kemarin. Maaf aku baru ingat”

“Apa ini?”

“Data praktikum kemarin! Katanya kamu butuh cepat!”, ucap Riang. Tetapi Dinda tidak terlalu memperhatikan ucapan Riang, Dinda fokus melihat kertas itu.

Riang menyeruput kopinya dengan santai. Riang melihat mimik Dinda yang berubah, diperhatikannya lagi. Dinda tersenyum membaca kertas yang diberikan Riang. Riang sedikit heran.

“Apa ada yang salah dengan datanya?”

“Nggak, aku senang membacanya. Indah. Bagus!”

“Indah?”, Riang melongo. Dengan sigap diambilnya kertas itu dari Dinda, lalu Riang menepuk dahinya. “Haduuh”.

“Sudah kubaca keduanya, Bagus, kamu punya bakat jadi penyair. Nggak nyangka!”

“Wah ternyata salah kertas”

“Kebanyakan kertas sih!”, ledek Dinda.

Mereka tertawa di tengah derasnya hujan sambil menunggu motor yang sedang diperbaiki. Mereka dan hujan, dan kedua sajak itu.

***

1. Entah

Hentakan karang yang embun pun hengkang. Hamba membeku, bertingkah juga layu. Jelaga arang hamba kuyup oleh ludah tabu. Seperti labirin tetap kusut membalutku. Topang diriku dengan senyum lapang, sayang. Yang semoga itu cermin dari sum-sum dalam. Tahukah kau, hadir menerka adalah gerbang keharapan. Mumpung ilalang tak menjamah tumit. Pinus tua melepas kaku. Aku mengarak bunga-bunga ke utara, kemarilah.

Jogja, Juni 2009

2. Di sekitarmu, aku mendoakanmu

Aku tegar disampingmu meski fajar dan lembayung senja bersua sembari membayangkan kita menikmati bubur ayam di balkon saat gerimis sore itu diketuk oleh kapel gereja yang bersahutan dengan geming adzan dari surau dekat sumur di sebuah desa lembah gunung sumbing dimana engkau dan aku memungkasi masa-semoga kau tahu itu.

Jogja. Juni 25, 2009

***

Rencana yang gagal. Itu adalah tema yang diusung oleh Dinda dan Riang keesokan harinya. Ketika teman-temannya membawa seribu cerita tentang pulau sempu, Dinda dan Riang hanya mendengarkannya.

“Ah, lain kali kita bisa ke sempu lagi, membangun tenda juga, camping! Kemarin kan hanya satu hari. Itu kurang lah”.

“Setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali”, ucap Fahri tersenyum.

“Sialan..”,ucap Riang kemudian tertawa.

Dinda pun terkikik.

***

4

Bima bertemu Dewaruci untuk mencapai pencerahan spiritual. Senopati bertemu Ratu Kidul untuk memperkuat kekuasaan. Aku bertemu denganmu untuk saling menambah keteguhan.

Baru saja melintasi hujan. Angin membawa serpihannya hingga masuk ke teras rumah. Dinda memandang senang, menemukan embun-embun indah yang membasahi lantai. Namun ada yang lebih indah dalam pikirannya. Ketika hujan turut menemaninya dalam perjalanan. Kemarin. Perjalanan dari sebuah desa kecil bersama Riang, dimana beberapa mahasiswa mengikuti program pemberantasan buta huruf di daerah itu setiap sabtu-minggu.

Keesokan harinya di kampus, Dinda terlihat tidak enak badan.

“Dinda, kemarin kamu kelihatan senang banget kehujanan! Sampai-sampai flu gini!”, ucap Riang seusai kuliah.

“Iya..gapapa, flu kan bisa minum obat, kalau hujan ga bisa ditunda”, jawab Dinda.

“Ya jelas ga bisa ditunda, kamu kan bukan pawang hujan!”

“Haha iyalaah. Oya kemarin itu rasanya senang banget, bisa ikut program itu. Ada seorang bapak yang duduk di belakang bilang pada anaknya, kalau anaknya bisa mengeja maka akan diberi permen”, sambung Dinda

“Kalau di kelas ibu-ibu dan bapak-bapak, mereka tidak mau mengeja ‘ini ibu budi’, katanya nanti seperti anak Te-ka, hehe”, timpal Riang.

Mereka menikmati tawa.

“Oya, Riang, apa sih resepnya biar banyak wacana seperti kamu? kamu kan pabrik wacana tuh!”, seketika Dinda refleks mengalihkan obrolan.

“Resep? Kaya mau demo masak! Hm.. asupan wacana itu dari diskusi dan membaca, kalau keduanya ditinggal ya nggak nambah-nambah!”, jawab Riang.

“Yaudah, sekarang aku mau pinjam buku-bukumu! Ditambah lagi diskusi denganmu”, ucap Dinda nyengir.

“Sekarang?”

“Iya! Mau ngadakan acara untuk May Day nih”

“Kan masih bulan depan!”

“Persiapannya dari sekarang lah..”

“Besok aja kubawakan buku-bukunya. Oke? Baca dulu, baru diskusi! Lagian laporan praktikum kamu juga banyak yang belum selesai!”

“Okey kalo gitu, besok yaa”, ucap Dinda dengan wajah berseri^^,

***

“Hei Dinda, kamu pernah bilang pengen belajar filsafat kan?”

“iya, kenapa?”

“Pernah baca buku Dunia Sophie?”

Dinda menggelengkan kepala.

“Ini, untukmu! Dunia Sophie, novel filsafat”

“Untukku?”

“Iya. Semoga Bermanfaat. Oya, mungkin buku yang kuberikan ini cetakannya versi jelek, hehe.. harap maklum harganya lebih murah.. Tapi kisah yang tertulis disini, barangkali cerita inspiratif yang bisa berpengaruh dalam hari-harimu kedepan”.

Dinda terdiam, tidak percaya. Lalu tersenyum. Manis.

***

5

Gadis itu, Dinda, membuka mata. Pandangannya yang buram lalu bertambah jelas seketika. Masih tetap bersandar di tiang halte bus. Masih menunggu bus. Namun, hujan tak lagi berkuasa. Hujan tak bersemangat menyentuh bumi.

“Apa yang tiba-tiba menyergapmu, biarkan aku membantumu membebaskannya, setidaknya biarkan aku turut menanggungnya. Biar hujan mengatupkan senja, beribu cahaya pudar, aku akan menggandengmu meniti jalan pelan-pelan, berbagi keseimbangan. Makanya aku pernah bilang, kalau merasa apa-apa, berbagilah padaku, jangan anggap aku tidak ada”, kata-kata Riang mengiang di telinga Dinda.

“Namun kau memang tidak ada. Dan aku tak bisa berbagi, dan kini merasa apa-apa”, ucap Dinda dalam hati.

Tak ingin menapak terlalu jauh tentang hal yang telah lalu, karena langkah ini tak mampu lagi berayuh..

Gerimis..gerimis Januari biru..

Terpekur kudisini, menerawang kilauan sorot sinar mata itu

Usai mendamba jauhnya asa, segelas perasaan yang meluber

Kini menikung, meringkuk, diam seketika..

Semoga kudapati dia bahagia selalu..

Hujan meninggalkan Dinda, perlahan… Meninggalkan lamunan kecil Dinda tentang masa kecilnya dan Riang.

Bus kota mulai berlalu-lalang, satu diantaranya berhenti dihadapan Dinda, lalu menjadi magnet bagi tubuhnya. Dinda beranjak, masuk kedalamnya.

***selesai***

 (Hayyu fe, Mei 2012)